logo Rabu, 11 Desember 2019

Ladang Emas dibalik Kotoran Sapi

Terakhir Diperbaharui pada : Rabu, 11 Desember 2019 ~ Dilihat 4409 Kali


Bau dan menjijikan. Itulah image yang menempel pada kotoran sapi. Baunya yang khas membuat orang menutup hidung atau menahan nafasnya. Menjijikan karena itu merupakan zat buangan dari sistem pencernaan sapi.

Dibalik image negatif kotoran sapi, terdapat keuntungan besar bagi orang yang mau memanfaatkannya. Kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, pakan ikan, pembuatan berbagai macam kerajinan, dan biogas.

Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang sebagai UPT Perbibitan dibawah Ditjen PKH Kementerian Pertanian memelihara sapi unggul sekitar 152 ekor. Jika rata- rata per ekor menghasilkan 15 - 20 kilogram (kg) setiap hari, artinya akan dihasilkan 2280 - 3040 kg kotoran sapi dalam per hari.

Selama ini pemanfaatan kotoran sapi di BIB Lembang baru sebatas untuk pupuk kompos di lahan hijauan. Dan sekarang mencoba memanfaatkan kotoran tersebut sebagai biogas. Penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk organik sangat diutamakan karena dapat meningkatkan kesuburan tanah. Menurut penuturan Pak Darmono, Staff PT. Pupuk Kujang dan pengusaha Mix Farming berbasis biosains “Kotoran sapi baik feses maupun urin merupakan penghasil asam humat alami yang dapat meningkatkan Ph tanah secara optimal”.

Asam humat berfungsi meningkatkan porositas tanah, mengikat oksigen, hingga menahan air lebih baik. Ph tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman biasanya diatas 4. Dengan Ph tanah yang optimal kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih cepat. Kondisi Ph tanah di Indonesia saat ini rata-rata bersifat asam karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimal. Kehadiran pupuk organik lah yang mampu menyeimbangkan Ph tanah dengan Asam humat alaminya.

 

Membuat pupuk organik berbahan kotoran sapi sangat sederhana. Hanya dengan proses fermentasi sederhana menggunakan EM4, kotoran sapi sudah dapat menjadi pupuk organik yang kaya manfaat dan tinggi nilai jualnya. Bayangkan 1 hektar lahan yang diolah menggunakan pupuk organik, Pak Darmono dapat memanen rumput gajah lebih dari 37,5 ton per hektar dari yang lahan biasa yang hanya mampu menghasilkan 20 ton per hektar sekali panen. Untuk lahan sawah beliau dapat memanen ±16 ton per hektar padi. Berbeda dengan lahan biasa yang hanya menghasilkan ±10 ton per hektar sekali panen.

Nilai jual pupuk organik cair dari kotoran sapi sendiri dapat mencapai Rp 20.000,-/Liter. Jika satu ekor sapi menghasilkan 10 Kg feses dan urin dalam sehari. Dengan memanfaatkan kotoran sapi secara optimal kita dapat menghasilkan ± Rp. 70.000.000, dalam 1 tahun. Selain meningkatkan nilai jual kotoran sapi, penggunaan pupuk organik membantu menetralkan Ph tanah. Secara tidak langsung, kita ikut menjaga bumi agar lebih berumur panjang, lebih hijau, dan lebih ramah terhadap penghuninya. (FRH)

KOMENTARI TULISAN INI